Di tengah riuh rendah perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Sujatin Kartowijono (sering juga disebut Suyatin Kartowiyono) mungkin tidak selalu terpampang sebesar pahlawan militer lainnya. Namun, beliau adalah salah satu arsitek sejati di balik kokohnya tiang pergerakan wanita Indonesia.
Hai, Sahabat Ipedia!
Sujatin bukan sekadar aktivis. Beliau adalah sosok penuh semangat yang mengalir, menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan sejati takkan pernah lengkap tanpa martabat dan peran penuh kaum perempuan.
Panggilan Jiwa dari Yogyakarta
Lahir pada 9 Mei 1907 di Desa Kalimenur, Wates, Yogyakarta, Sujatin tumbuh di masa ketika tradisi feodal masih sangat kental membelenggu, terutama bagi perempuan. Meski berasal dari keluarga kelas menengah, tetapi jiwa mudanya menolak ketidakadilan yang ia saksikan. Acap kali ia melihat perlakuan diskriminatif terhadap wanita di lingkungan keraton.
Lingkungannya, yang didominasi oleh tata krama keraton dan hierarki sosial yang ketat, sering kali menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat terbatas. Ketidakadilan struktural ini menanamkan benih perlawanan yang kuat dalam dirinya. Sujatin muda menyadari bahwa martabat perempuan Indonesia tidak akan pernah terangkat jika mereka hanya dipandang sebagai pelengkap atau entitas yang terkurung dalam urusan domestik.
Menjadikan Pendidikan dan Bahasa Persatuan Sebagai Senjata Revolusioner
Jika para pejuang lain mengangkat senjata, Sujatin mengangkat buku dan organisasi. Ia berkeyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk membebaskan kaumnya dari kebodohan dan ketergantungan. Ia melihat bagaimana kolonialisme dan feodalisme bekerja sama merampas hak-hak dasar perempuan.
Namun, yang paling mencolok dari sikap revolusioner Sujatin adalah penolakannya terhadap bahasa sebagai alat penindasan. Ia menolak keras penggunaan bahasa Jawa kromo inggil (tingkat halus) dalam komunikasi pergerakan. Terutama yang merujuk pada hierarki feodal, ia bersikeras menggunakan Bahasa Indonesia.
Di dalam perjuangan, kita semua setara. Tidak ada istilah kromo inggil atau hierarki. Bahasa persatuan adalah lambang kesetaraan kita.
Keputusan ini adalah deklarasi politik yang tegas, di mana Bahasa Indonesia adalah simbol persatuan dan kesetaraan. Bahasa persatuan dapat memutus mata rantai penghormatan yang didasarkan pada status sosial. Hal ini menegaskan bahwa di dalam pergerakan, semua pejuang adalah setara. Sikap Sujatin menunjukkan kedewasaan pemikiran yang jauh melampaui usianya.
Menempa Diri dalam Organisasi Pemuda
Keyakinannya terhadap visi dan misinya dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan mendorongnya aktif berorganisasi sejak dini. Ia bergabung dan menjadi pengurus di bagian perempuan Jong Java, salah satu organisasi pemuda paling berpengaruh saat itu.
Pengalamannya di sana tidak hanya mengasah kemampuan manajerial, tetapi juga memperluas jaringan nasionalisnya. Puncaknya, ia mendirikan organisasi Putri Indonesia pada tahun 1926. Melalui organisasi-organisasi inilah, Sujatin mulai merangkai cita-cita besar untuk menyatukan kekuatan perempuan di seluruh Nusantara.
Motor Penggerak Sejarah Lahirnya Hari Ibu Nasional

Tujuan organisasi yang selama ini dibangun Sujatin akhirnya tercapai. Pada 22 – 25 Desember 1928, ia berada di garis depan dalam pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta.
Di tengah banyaknya tantangan politik dan budaya saat itu, Sujatin adalah salah satu arsitek utama yang memastikan Kongres ini terlaksana. Tak main-main, ia mengambil peran sebagai Ketua Pelaksana dan delegasi dari Putri Indonesia.
Baca juga: Rahmah El Yunusiyyah, Pembaharu Pendidikan Perempuan
Kongres ini bukanlah acara kumpul-kumpul pada umumnya, melainkan forum politik dan sosial yang berani. Para perempuan dari berbagai wilayah membahas isu-isu krusial seperti pernikahan anak, perceraian, hingga pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Sujatin dan rekan-rekannya menegaskan bahwa isu domestik adalah isu publik yang menentukan kualitas bangsa. Sehingga pada tanggal bersejarah ini, 22 Desember, diakui dan ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Hari Ibu Nasional.
Hari Ibu adalah hari pengakuan perjuangan. Ini adalah pengingat bahwa kami, para ibu dan perempuan, adalah pejuang yang mengukir sejarah bangsa.
Sujatin memastikan peran perempuan dalam kemerdekaan, pendidikan, dan pembangunan bangsa diakui setinggi-tingginya. Pengakuan ini melampaui peran mereka di rumah tangga. Kongres 1928 yang ia gagas adalah awal mula kesadaran kolektif yang akan terus dilanjutkan perempuan di masa mendatang.
Aksi Nyata Pasca-Kemerdekaan

Setelah Republik Indonesia lahir, perjuangan Sujatin tidak berhenti. Ia menyadari bahwa kemerdekaan politik harus diisi dengan kemerdekaan sosial dan ekonomi bagi perempuan. Langkah strategisnya adalah mendirikan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) pada tahun 1945, bersama Maria Ullfah Santoso dan tokoh wanita lainnya.
Perwari menjadi wadah resmi yang mengalihkan fokus dari konsolidasi politis menuju aksi pembangunan praktis. Mereka mendirikan sekolah, kursus keterampilan, dan pelatihan kewirausahaan. Tujuannya memastikan perempuan yang baru terlepas dari belenggu kolonial memiliki bekal untuk menjadi warga negara yang mandiri dan berdaya.
Perjuangan wanita Indonesia adalah perjuangan untuk menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar pelengkap.
Kerja keras Sujatin semakin terlihat jelas selama masa revolusi fisik tahun 1946–1949. Ia turun langsung ke lapangan sebagai petugas angkutan dapur umum di organisasi WANI (Wanita Indonesia). Bayangkan saja, tokoh penting di balik Hari Ibu ini tidak hanya berpidato. Ia rela bolak-balik ke Yogyakarta, yang saat itu ibu kota sementara, untuk mengurus logistik dan memastikan makanan tersedia bagi para pejuang dan pengungsi.
Dedikasinya tidak pernah surut. Melalui KOWANI (Kongres Wanita Indonesia), ia terus mengadvokasi hak-hak perempuan di hadapan hukum dan pemerintah yang baru terbentuk. Sujatin adalah teladan sejati. Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin pergerakan harus siap bekerja di balik meja perundingan sekaligus di dapur umum.
Warisan Abadi Sang Motor Penggerak

Sujatin Kartowijono mengakhiri pengabdiannya yang panjang pada 1 Desember 1983. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia adalah aktivis yang mendedikasikan seluruh hidupnya, dari masa pergerakan pemuda, pengorganisasian Kongres, hingga pengabdian sebagai pegawai negeri di Jawatan Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan. Semua ia didedikasikan untuk memajukan bangsa melalui martabat perempuan.
Julukan “Motor Penggerak” sangat pantas disandangnya. Sujatin tidak hanya memimpin, ia merangkai visi yang terstruktur, meletakkan fondasi organisasi yang kuat (Perwari) dan momen sejarah yang tak terlupakan (Kongres 1928).
Baca tentang: Rasuna Said, Kaum Bangsawan yang Melawan Penjajah
Ia adalah teladan bahwa kekuatan sesungguhnya seorang pejuang terletak pada konsistensi, keberanian mendobrak tradisi, dan kesiapan untuk bekerja di medan manapun.
Ketika kita merayakan Hari Ibu Nasional setiap tahun, ingatlah esensi tanggal 22 Desember. Hari itu adalah hari di mana wanita Indonesia bersatu, menuntut hak politik dan sosial mereka, dan menegaskan peran setara dalam pembangunan bangsa.
Warisan Sujatin adalah janji yang ia tunaikan. Perempuan adalah subjek penting dalam sejarah, bukan objek yang menunggu untuk dibebaskan, melainkan kekuatan yang membebaskan dirinya sendiri. Meneruskan semangatnya berarti terus berjuang mewujudkan kesetaraan sejati di setiap lini kehidupan.
Artikel ini dibuat untuk memeriahkan FestPPim. Festival Perempuan Pemimpin 2025 yang hadir sebagai wadah inspiratif para perempuan di Ibu Profesional untuk mengimplementasikan pengetahuan, berbagi pengalaman, menyatakan apresiasi, dan menyemai visi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Referensi:
https://amp.kompas.com/tren/read/2019/12/22/070300765/index.html
https://id.wikisource.org/wiki/Biografi_Tokoh_Kongres_Perempuan_Indonesia_Pertama/Nyonya_Sujatin_Kartowijono