Rasuna Said: Kaum Bangsawan Melawan Penjajah post thumbnail image

Kamu mungkin pernah atau sering lewat ke Jl. HR Rasuna Said di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi tahukah Kamu, siapa sebenarnya sosok yang dijadikan nama jalan tersebut? 

Ternyata sosok tersebut adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said, salah satu Pahlawan Nasional Wanita Indonesia, berasal dari kaum Bangsawan Minangkabau.

Dia juga dikenal karena lantang mengkritik pemerintah Belanda serta menyuarakan tentang kesetaraan bagi kaum perempuan dalam Pendidikan, Politik, dan Kemandirian Finansial. 

Hai, Sahabat Ipedia!

Berbicara tentang wilayah Sumatera Barat, selalu saja ada kisah yang unik dan menarik untuk dibahas. Salah satunya tentang kisah perjuangan HR Rasuna Said. 

Lahir dari keluarga bangsawan Minangkabau, tidak menjadikan sosok wanita yang satu ini sombong dan angkuh. Sebaliknya, Ia malah berani memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan dan melawan kolonial. 

Memiliki latar pendidikan agama Islam yang kuat dengan menjadi seorang Santri. Rasuna Said menjadi sosok yang cerdas, rajin belajar, hingga terjun ke dunia Politik dan juga menjadi Jurnalis. 

Seperti apa kehidupan dan perjuangannya yang menginspirasi kaum wanita Indonesia, simak selengkapnya berikut ini!

Rasuna Said Masa Remaja

Lahir dari Keluarga Bangsawan 

Saat itu, pada tanggal 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat, lahir seorang bayi perempuan yang diberi nama Rasuna Said.

Ayahnya bernama Muhammad Said yang merupakan seorang aktivis, saudagar kaya, dan salah satu pendiri Taman Siswa. Sedangkan ibunya bernama Sitti Saleha. 

Ayahnya adalah seorang tokoh yang terpandang di mata masyarakat Minangkabau. Rasuna kecil hidup dalam kondisi keluarga Islam yang taat.

Siapa sangka, bayi perempuan dari kalangan bangsawan ini kelak dijuluki si ‘’Singa Betina” dari Minangkabau, karena keberaniannya melawan penjajah.

Kecerdasan dan keberanian itu bahkan mulai terlihat, sejak Rasuna kecil sekolah agama di Diniyah.

Sekolah di Lembaga Pendidikan Perempuan Modern

Sang ayah, Muhammad Said sepertinya sudah melihat potensi sang putri. Setelah lulus dari sekolah Diniyah, Beliau menyekolahkan Rasuna di pesantren Ar-Rasyidiyah di bawah pimpinan Syekh Abdul Rasyid.

Ternyata, di pesantren itu, Rasuna menjadi satu-satunya santri perempuan. Karena kecerdasan dan rasa ingin tahu yang tinggi, Rasuna mempelajari ilmu agama dengan giat.

Di usianya yang baru memasuki masa remaja, Ia bahkan sudah bisa menjawab berbagai persoalan agama, dengan dalil-dalil yang dia sudah hafal di luar kepala. 

Ayah Rasuna kemudian menyekolahkan putrinya lagi ke sekolah terbaik di Padang Panjang. Sekolah Diniyah Putri yang menjadi sekolah pendidikan perempuan Modern di wilayah Sumatera Barat.

Di sekolah inilah, Rasuna Said akhirnya bertemu dengan Rahmah el-yunusiah. Saat itu, Rahmah adalah seorang guru di sekolah tersebut. Rasuna dan Rahmah memiliki perbedaan usia sekitar 10 tahun. 

Menjadi Guru dengan Pandangan Politik dan Perjuangan

Hingga pada tahun 1923, karena kecerdasan dan keberanian dalam berbicara yang dimiliki oleh Rasuna, Ia diangkat menjadi seorang asisten guru. 

Tugas barunya sebagai pengajar dan pendidik tersebut banyak memberikannya pengetahuan baru. Terutama mengenai pendidikan dan kemajuan bagi kaum wanita pada saat itu. 

Dari Asisten Guru, dia diangkat menjadi Guru utama. Bersama Rahmah El-yunusiah, Ia mengajar di sekolah Diniyah putri yang baru didirikan. 

Meskipun begitu, seorang Rasuna Said ternyata tidak puas hanya dengan memberikan pendidikan pada kaum perempuan di sekolah-sekolah tersebut. 

Ia berpandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak cukup hanya dengan belajar, lalu mendirikan sekolah. Menurutnya, kaum wanita juga harus melakukan perjuangan politik. 

Rasuna ingin menerapkan pelajaran politik dan wawasan kebangsaan dalam kurikulum pendidikannya. Namun, sayang sekali, pandangan ini ditolak dan bahkan tidak sejalan dengan pandangan Rahmah el-yunusiah.

Rasuna Said Melawan Penjajah

Terjun ke Politik Melawan Penjajahan Belanda

Keinginannya yang begitu kuat untuk berjuang meraih kemerdekaan, membuatnya terjun langsung ke ranah politik. 

Pada tahun 1926, Ia pernah menjadi Sekretaris di Cabang Sarekat Rakyat bersama Tan Malaka, di usianya yang masih 17 tahun.

Organisasi ini ada untuk menghimpun kekuatan masyarakat Indonesia, dalam melawan penjajahan Belanda saat itu. 

Berlanjut di tahun 1930, Rasuna Said juga bergabung ke Organisasi Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Ia juga masih aktif mengajar dan berpidato politik di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI.

Dalam setiap rapat penting, Rasuna mengambil kesempatan untuk menyampaikan pidato politiknya. Salah satu pidatonya tentang “Langkah-Langkah Menuju Kemerdekaan Rakyat Indonesia”.

Pernikahan dan Pandangan Kesetaraan Wanita

Seperti kehidupan perempuan pada umumnya, Ia juga memiliki kisah cinta yang tidak banyak diketahui. Meskipun Ia sibuk mengajar dan berpolitik, Ia diketahui pernah menikah semasa hidupnya.

Pernikahan tersebut terjadi pada tahun 1929, pada usia 19 tahun, Ia menikah dengan Duski Samad, yang juga seorang pengajar dan aktivis politik. Sayangnya, pernikahan ini mendapat penolakan dari pihak keluarga Rasuna.

Dari pernikahan ini, Rasuna dikaruniai 2 anak yaitu Auda dan Darwin. Namun, karena kesibukan masing-masing dalam berpolitik, mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai.

Meskipun begitu, setelah bercerai, Duski dan Rasuna masih cukup sering berkomunikasi dan bertukar pikiran tentang pendidikan dan politik. 

Sejak bercerai, Rasuna Said juga mulai sering berpidato membela kaum perempuan. Salah satu isu yang diangkat adalah tentang Poligami

Menurutnya praktik ini dianggap melecehkan kaum wanita, meskipun dibolehkan dalam agama. Rasuna menjadi sosok yang menentang hal ini. 

Berani Berorasi hingga Dipenjara

Saat HR Rasuna Said bersama kawan-kawan seperjuangannya merintis PERMI, Rasuna sering melakukan orasi dan memberontak pemerintahan kolonial Belanda.

Banyak dari orasi-orasi yang disampaikannya berisi kecaman keras terhadap Belanda. Pidato orasinya ini bagaikan petir di siang hari. 

Hingga pada tahun 1932, di Payakumbuh, ketika PERMI sedang melakukan rapat umum, tiba-tiba Rasuna didatangi oleh sekelompok aparat. 

Keberaniannya dalam menyampaikan pidato politik, ternyata banyak dianggap sebagai ujaran kebencian oleh pemerintah Belanda.

Ia didakwa melakukan Speek Delict atau pelanggaran berbicara. Hal ini akhirnya membuat Rasuna Said harus dipenjara selama kurang lebih 15 bulan, di Semarang, Jawa Tengah. 

Perjuangan Terus Berlanjut

Seorang pahlawan tidak akan berhenti berjuang hingga meraih kemerdekaan. Dalam hal ini, Rasuna Said juga terus melanjutkan perjuangannya dalam membela kaum perempuan dan menentang kolonial.

Buktinya, ketika sudah keluar dari penjara, Ia kembali belajar di Islamic College, Padang. Kemudian, Ia sempat pindah ke Medan dan mencoba karir barunya dalam dunia Jurnalistik.

Tidak hanya itu, Ia mulai aktif di berbagai organisasi politik lainnya seperti Komite Nasional, menjadi anggota DPR, hingga menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Semua organisasi dan karir yang dimilikinya, membuatnya harus pindah ke Jakarta. Karirnya mulai stabil, hingga akhirnya Ia meninggal pada tanggal 2 November 1965, karena kanker payudara yang dideritanya. 

Karena jasa-jasa dan perjuangannya dalam membela Indonesia dan melawan penjajah, Rasuna Said diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia. 

Hal ini sesuai dengan keputusan Presiden RI Nomor 084/TK/Tahun 1974. Ia dinobatkan dan diberi gelar ini oleh Presiden Soeharto. 

The Real Independent Woman

Jika ditanya apa makna dari independent woman yang sering disebut para perempuan modern saat ini, maka lihat saja kisah kehidupan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. 

Ia adalah gambaran wanita yang memiliki kemandirian finansial dan karir yang cemerlang. Selain itu, Ia juga berani berjuang melawan penjajah dan menyuarakan kesetaraan perempuan. 

Jadi, seorang yang The Real Independent woman bukan hanya dia yang memiliki kemandirian finansial. Tapi Ia juga mesti memiliki karakter yang kuat, berani menentang yang salah dan membela sesama kaum perempuan. 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Rasuna_Said
https://tirto.id/rasuna-said-singa-podium-yang-menentang-poligami-cH1L

https://bincangmuslimah.com/khazanah/rasuna-said-pahlawan-kemerdekaan-dari-kalangan-santri-dan-pejuang-kesetaraan-perempuan-bersenjata-pena-37788/

2 thoughts on “Rasuna Said: Kaum Bangsawan Melawan Penjajah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post