Pahami dan Cegah Filisida Agar Tidak Terjadi Lagi post thumbnail image

Mungkin ada saat kita merasa dunia terasa berat. Mengafirmasi diri sendiri setiap hari untuk tetap kuat. Harus tetap tersenyum. Padahal dalam hati berpikir siapa yang memahami, siapa yang menghargai, siapa yang menyadari keberadaan kita. Saat dunia terasa sempit dan gelap itu, ada bahaya yang mengancam, yaitu filisida. Apa itu dan bagaimana menghindarinya? Darurat filisida digaungkan di beberapa organisasi perempuan. Bagaimnana peran sesama perempuan dalam mengatasi keadaan ini?

Sobat Ipedia Berita Baik!

Miris rasanya melihat berita di TV maupun yang viral di media sosial beberapa waktu lalu. Tentang seorang ibu meracuni 2 anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Bagaimana perempuan, seorang ibu, dengan segala kelembutan dan keibuannya, dapat melakukan hal itu? Kedua anaknya masih berusia 9 tahun dan 10 bulan.

Dalam surat wasiatnya, si ibu mengutarakan tentang tekanan hidup, rasa lelah, dan keyakinan bahwa kematian adalah bentuk perlindungan bagi anak-anaknya. Ternyata kasus ini tidak berdiri sendiri.

Studi Wales menyatakan 66% ibu pelaku filisida, atau tindakan mengakhiri riwayat anaknya sendiri, memiliki riwayat gangguan mental. Penelitian lain di Italia mengungkap, banyak ibu berusia sekitar 35 tahun, sebagian melakukan itu karena tekanan ekonomi dan isolasi sosial, serta keinginan menyelamatkan anaknya dari penderitaan. Ini adalah bentuk cinta yang tersesat. Masyarakat mungkin terlambat mengetahui tanda-tandanya.

Bagaimana cinta seorang ibu bisa melakukan hal ini? Bagaimana altruistik bisa menjadi seperti itu?

Pahami tentang filisida

Bersama Sofiana Indraswari, M.Psi., seorang psikolog sekaligus istri dari Hilman Fauzi, Pd.D, juga ibu dari empat orang anak. Sofi, panggilan akrabnya, melalui Firdaus Armany Psychological Center, ia bergerak aktif idi dunia psikologi anak dan keluarga. Bahkan sejak tahun 2013.

Baca: Me Time Kembalikan Semangat Ibu

Tak sampai situ, Sofi juga menjadi psikolog di Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) kota Bandung. Dengan pengalamannya itu, ia mengungkap mengapa seorang ibu bisa melakukan filisida dan bagaimana mencegahnya.

Banyak kasus memberikan gambaran pada kita bahwa perilaku melindungi menjadi keputusan yang sangat tidak rasional. Di sisi lain, melalui jurnal-jurnal yang ada, kita punya isu kesehatan mental. Istri dan ibu menjadi lebih rentan mengalami permasalahan ini.

Sofi menyarankan untuk mengenali emosinya sendiri. Banyak perempuan yang telah menikah lupa mencintai dirinya sendiri.


Cegah filisida

Peran suami nyata sekali. Pasalnya banyak kejadian ini berawal dari tekanan ekonomi dan ketidakmampuannya untuk menjadi suami. Beberapa kasus terjadi pada keluarga yang suaminya belum siap menikah.

Baca juga: Fenomena Bunuh Diri Mahasiswa Indonesia

Ketidaksiapan ini membuat rumah tangga menjadi bermasalah, Mereka sangat mungkin termasuk dalam keluarga rentan. Dalam keluarga rentan, ada 3 pemicu filisida yang harus diketahui dan dicegah.

Bersama Dian Asih Purbani dan Sofiana Indraswari, Podcast Dunia Perempuan Episode #56 bertajuk, Cinta Yang Tersesat, Saat Ibu Menyikapi “Perpisahan ” Sebagai Perlindungan. Simak lengkapnya di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Konferensi Ibu Profesional 2019 Sinergi Perubahan dan Inspirasi Change-Maker Indonesia

Konferensi Ibu Profesional 2019: Sinergi Perubahan dan Inspirasi Change-Maker IndonesiaKonferensi Ibu Profesional 2019: Sinergi Perubahan dan Inspirasi Change-Maker Indonesia

Kota Yogyakarta kembali mencatatkan sejarah sebagai saksi pertemuan para perempuan pembawa perubahan dalam Konferensi Ibu Profesional 2019. Acara yang digelar di Hotel Sahid Jaya ini mengangkat tema sentral “Synergi of