Siapakah yang lebih baik merawat orangtua di masa senja, anak dan keluarganya sendiri atau panti ?
Saat anak memilih untuk menitipkan orangtuanya ke panti, salahkah keputusan mereka? Mungkinkah ini bentuk perhatian yang lain kepada orangtua tersebut? Host Nur Laila mengulik semua fakta dari psikolog Ayunda Ramadhani, termasuk adab ketika memutuskan merawat orangtuanya ke panti.

Sobat Berita Baik Ipedia!
Faktanya, 65% lansia yang tinggal di panti jompo memiliki anak atau keluarga yang bisa merawat mereka. Beragam alasan mengapa keputusan ini mereka ambil.
Kali ini, host Laila mewawancarai Ayunda Ramadhani, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan seorang psikolog klinis. Profesi lainnya adalah dosen di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur.
Ayunda fokus pada kesehatan mental, edukasi keluarga dan parenting. Ia juga sangat peduli dengan isu kekerasan dalam rumah tangga dan fenomena psikologis kekinian. Saat ini aktif memberikan layanan klinis di FAMRO Samarinda.
Sosok baik ini juga menjadi pendamping psikologis atlet di beberapa ajang olahraga seperti PON dan ASEAN University Games.
Panti Jompo, layakkah untuk orangtua?
Panti jompo adalah layanan pemerintah, dengan tujuan memberikan tempat aman bagi para lansia. Perawatan secara memadai yang mungkin tidak mereka dapatkan di rumahnya atau di keluarganya. . Pemerintah hadir melalui panti-panti jompo di bawah Dinas Sosial. Selain pemerintah, ada juga panti jompo swasta.
Namun dari sisi lansia, mungkin akan beda cara pandangnya. Apalagi jika tidak dengan persetujuan beliau sendiri. Maka perlu langkah-langkah tepat sebelum mengambil tindakan tersebut.
Panti jompo didesain untuk ramah lansia, mendorong mereka menjalani kehidupan yang bahagia dan berdaya. Namun jika dilakukan dengan tidak benar, maka tujuan ini akan sulit sekali tercapai.
Baca juga: Fenomena Bunuh Diri Mahasiswa Indonesia
Dampak psikologis para orangtua yang masuk ke panti di luar keinginannya?
Kisah Nenek Nasikah di Griya Lansia dan Nenek Trimah di sebuah panti jompo di Magelang menjadi viral karena keduanya merasa dibuang oleh anaknya sendiri. Perasaan yang mungkin muncul karena sebelumnya tidak tahu akan dimasukkan ke panti.
Bagaimanapun perasaan ini sangat wajar dirasakan jika dalam prosesnya para anak dan keluarga tidak memberikan perhatian dalam artian komunikasi dan tetap menjenguk orangtua di sana. Perasaan disisihkan melalui komunikasi yang berlanjut.
Keluarga perlu secara berkala, dengan jarak yang tidak lama, untuk selalu memastikan hadir untuk mereka yang sedang dititipkan di panti. Kehadiran berupa menanyakan kabar beberapa hari sekali juga merupakan bentuk perhatian yang diperlukan.
Apa saja langkah yang perlu dilakukan sebelum orangtuanya masuk ke panti jompo? Bagaimana agar para lansia tetap bahagia dan berdaya di panti jompo? Simak lengkapnya di