Di pesisir Minahasa yang tenang, jauh sebelum istilah pemberdayaan perempuan atau emansipasi perempuan Indonesia dikenal luas, seorang gadis bernama Maria Walanda Maramis tumbuh di tengah keterbatasan zaman.
Ia bukan bangsawan, bukan tokoh politik, dan tidak pernah memimpin pasukan. Namun dari desa Kema yang sederhana inilah lahir salah satu pahlawan nasional perempuan Indonesia yang kelak mengubah wajah pendidikan perempuan di tanah air.

Hai, Sahabat Ipedia!
Pada masa ketika perempuan Minahasa hanya dianggap penjaga rumah, Maria melihat sebuah kenyataan pahit di mana perempuan tidak diberi kesempatan, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak diajarkan untuk bermimpi.
Dari kesadaran itu, ia menyalakan percikan pertama perjuangannya. Perjuangan yang hari ini dikenang sebagai tonggak penting dalam sejarah perempuan Indonesia dan membuat nama Maria Walanda Maramis terus dicari, dipelajari, dan dihormati sebagai pelopor perubahan.
Simak kisah beliau berikut ini!
Sebuah Desa, Seorang Anak Perempuan, dan Sebuah Takdir
Angin laut Kema bertiup lembut setiap pagi, membawa aroma garam dan cerita-cerita lama dari perahu-perahu yang baru kembali. Di desa kecil di pesisir Minahasa itu, kehidupan berjalan pelan, seperti musim yang tak pernah tergesa. Perempuan desa biasanya berada di balik dinding-dinding rumah panggung. Terbiasa memasak, mengurus anak, menenun mimpi yang tidak pernah sempat tumbuh.
Di sinilah seorang bayi perempuan lahir pada 1 Desember 1872. Ia diberi nama Maria Josephine Catherine oleh kedua orang tuanya, Sarah Rotinsulu dan Bernardus Maramis.
Tak ada yang tahu bahwa tangis pertamanya akan menjadi suara bagi ribuan perempuan Indonesia di kemudian hari. Ia tumbuh dalam hangatnya keluarga sederhana, dikelilingi adat Minahasa yang kuat dan keterbatasan yang lebih kuat lagi.
Masa Remaja yang Penuh Luka
Hidup Maria tidak selamanya dibalut ketenangan desa. Ketika usianya masih belia, ia harus menghadapi pukulan yang terlalu berat untuk seorang anak pada saat kehilangan kedua orang tuanya. Dalam sekejap, rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi ruang hening yang berisi kehilangan.
Maria dan saudara-saudaranya kemudian diasuh oleh pamannya. Meski penuh kasih, masa remaja Maria tidak lagi memiliki cahaya yang sama. Ia belajar bahwa hidup perempuan bisa berubah hanya dalam satu hari, tanpa perlindungan, tanpa pendidikan, tanpa jaminan apa pun selain ketabahan.
Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong dalam dirinya, ruang yang perlahan terisi oleh satu hal, yakni kesadaran tentang betapa rapuhnya posisi perempuan pada zamannya. Ia melihat para perempuan harus menerima nasib yang ditentukan orang lain. Ia melihat mereka berjuang dalam diam.
Melihat Dunia dari Keterbatasan
Maria bukan anak yang banyak bicara, tetapi ia memiliki keinginan belajar yang tak pernah padam. Ia membaca apa pun yang bisa ia temukan. Entah itu surat kabar, buku-buku lawas, hingga cerita-cerita yang dibawa pedagang dari luar Minahasa. Setiap kata membuka jendela baru, memperlihatkan dunia yang lebih luas dari yang ia kenal.
Dari sana, pelan-pelan ia mengerti bahwa perempuan bukan tak mampu, namun tak diberi kesempatan.
Sesederhana dan serumit itu.
Di tengah kehidupan kolonial yang membatasi peran perempuan hanya pada ruang domestik, Maria mulai bertanya-tanya, “Jika perempuan diberi pengetahuan, bukankah mereka bisa berbuat lebih?“
Baca tentang: Konferensi Perempuan Indonesia, Menguatkan Akar Gerakan Perempuan Indonesia
Pertanyaan itu tumbuh menjadi kegelisahan yang begitu kuat, hingga tidak bisa lagi ia pendam sendiri. Di titik inilah percikan pertama muncul. Percikan yang kelak berubah menjadi gerakan besar yang mengubah wajah perempuan Minahasa.
Ilmu adalah pelita. Ketika perempuan memegangnya, seluruh rumah akan bercahaya.
Pernikahan dan Langkah Pertama ke Dunia Politik & Emansipasi
Setelah masa remaja dan kegelisahannya terhadap ketidaksetaraan gender, kehidupan Maria memasuki babak baru ketika ia menikah pada tahun 1890 dengan seorang guru bahasa, Joseph Frederick Calusung Walanda. Dari pernikahan ini, Maria memperoleh nama yang kemudian kita kenal hingga hari ini, Maria Walanda Maramis.
Tinggal bersama sang suami di Airmadidi dan Maumbi, Maria semakin menyadari kondisi sosial masyarakat Minahasa. Banyak perempuan tak pernah mendapat pendidikan formal, kehidupan domestik dipandang remeh, dan kesempatan untuk bersuara di ranah publik nyaris tertutup.
Kedekatannya dengan keluarga pendeta dan guru mendekatkannya ke lingkungan terpelajar dan membuka pintu pikirannya tentang emansipasi perempuan.
Perempuan bukan pelengkap. Mereka adalah pilar yang menentukan runtuh atau tegaknya sebuah masyarakat.
Pada 8 Juli 1917, dari gagasan itu, lahirlah organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya). PIKAT merupakan sebuah wadah pelatihan bagi perempuan yang hadir bukan sekadar untuk mengasah keterampilan rumah tangga, tetapi juga pendidikan, literasi, kemandirian dan kesadaran sosial.
Bagi Maria saat itu, PIKAT bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk memperkuat perempuan agar sadar bahwa mereka juga warga masyarakat yang berhak memilih dan bersuara.
Menyuarakan Perempuan, Dari Kelas Hingga Dunia Politik
Semangat Maria tak berhenti pada pendidikan saja. Ia mulai menulis artikel-artikel opini di surat kabar lokal tentang pentingnya pendidikan perempuan, peran ibu dalam keluarga, dan bahwa perempuan pantas mendapat tempat dalam pengambilan keputusan sosial.
Keterlibatannya pun melebar ke arena politik. Ia tercatat sebagai anggota Indische Partij, partai politik yang memperjuangkan kemerdekaan Hindia Belanda serta hak-hak warga pribumi. Keputusan ini bukan hanya revolusioner secara gender, tetapi juga secara nasionalisme.
Maria melihat bahwa pendidikan tanpa akses politik akan tetap membelenggu perempuan. Maka ia menyuarakan bahwa perempuan tidak hanya pantas belajar, tetapi juga pantas memilih dan dipilih.
Baca juga: Kartini, Hidup 25 Tahun untuk Mengubah Dunia
Menuntut Hak Suara Agar Perempuan di Minahasa Bisa Bersuara
Pada 1919 dibentuklah badan perwakilan lokal Minahasa yang bernama Minahasa Raad. Badan tersebut memiliki ketentuan awal hanya memberi hak suara dan keterwakilan bagi laki-laki. Maria menolak ini. Ia memprotes lewat jalur resmi. Pertama kepada pejabat lokal, kemudian mengirimkan surat langsung ke pemerintah pusat di Batavia.
Perjuangannya tidak sia-sia. Pada 1921, pemerintah Hindia Belanda menerima tuntutannya. Artinya, perempuan di Minahasa resmi diperbolehkan ikut memilih dalam pemilihan anggota Minahasa Raad.
Ini bukan hanya kemenangan kecil. Keputusan tersebut merupakan sebuah langkah nyata terbukanya ruang bagi perempuan Minahasa (dan Indonesia secara lebih luas) untuk bersuara, berpartisipasi, menentukan wakil mereka, dan menunjukkan bahwa suara perempuan juga penting dalam urusan publik.
Hari-Hari Terakhir Maria
Sementara semangat Maria selalu meluap, fisiknya perlahan melemah. Tahun-tahun terakhir hidupnya dilalui dalam keheningan yang berbeda. Bukan hening karena kehilangan seperti masa kecilnya, tetapi hening karena tubuh yang memaksanya berhenti sejenak.
Meski begitu, Maria tak pernah benar-benar berhenti. Ia masih memberi arahan, masih menerima tamu, masih menguatkan perempuan-perempuan yang datang meminta nasihat. Ia melakukannya dengan senyum yang menutupi rasa sakit yang tak pernah ia keluhkan.
Pada 22 April 1924, Maria Walanda Maramis menghembuskan napas terakhirnya di usianya yang ke-51. Kesedihan pun menyebar pelan di antara perempuan-perempuan yang pernah disentuh oleh semangatnya. Mereka tahu, perempuan yang lembut namun begitu kuat itu telah berpulang. Namun mereka juga tahu, apa yang ia tinggalkan tak akan pernah mati.
Warisan yang Tak Padam

Setelah kepergiannya, PIKAT tidak runtuh. Justru organisasinya berkembang, semakin terstruktur, dan menjangkau lebih banyak perempuan. Sekolah-sekolah keterampilan perempuan berdiri. Para perempuan yang dulu pemalu kini menjadi pemimpin lokal.
Pada tahun 1969, negara akhirnya mengakui betapa besar jejak yang ditinggalkan Maria. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Gelar ini disematkan bukan karena ia memimpin peperangan, tetapi karena ia memperjuangkan martabat dan pendidikan bagi perempuan.
Hingga hari ini, namanya diabadikan sebagai nama jalan, sekolah, dan monumen. Warisan sejatinya hidup dalam keberanian perempuan Indonesia yang terus melangkah, dalam mimpi-mimpi yang tidak lagi dibatasi.
Kisah Maria Walanda Maramis bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang kehilangan banyak, namun memberi jauh lebih banyak. Kisah tentang bagaimana perubahan besar dapat dimulai dari ruang tamu kecil di sebuah desa pesisir.
Di setiap perempuan yang berpendidikan, mandiri, dan percaya diri hari ini, ada jejak Maria yang tak terlihat.
Artikel ini dibuat untuk memeriahkan FestPPim. Festival Perempuan Pemimpin 2025 yang hadir sebagai wadah inspiratif para perempuan di Ibu Profesional untuk mengimplementasikan pengetahuan, berbagi pengalaman, menyatakan apresiasi, dan menyemai visi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Referensi:
- https://klasika.kompas.id/baca/maria-walanda-maramis-jalan-panjang-perjuangan-hak-perempuan/
- https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/21/132227169/maria-walanda-maramis-tokoh-emansipasi-dari-minahasa
- https://www.kompas.com/sulawesi-selatan/read/2025/04/20/152628388/bukan-hanya-kartini-ini-kisah-maria-walanda-maramis-pejuang
- https://lipsus.kompas.com/read/2022/03/01/143000878/biografi-maria-walanda-maramis-pahlawan-nasional-perempuan-kebanggaan
- https://mppi.id/profil/maria-walanda-maramis
- https://ensiklopedia.kompas.id/baca/maria-walanda-maramis