Banyak yang mengira, R.A. Kartini menjadi pahlawan karena mengusung emansipasi. Itu hanya bagian kecil saja dari perannya. Ia hanya hidup selama 25 tahun namun takdir membuatnya menjadi pengubah wajah dunia.

Hai sahabat Ipedia!
Setiap tanggal 21 April, para ibu disibukkan dengan persiapan Hari Kartini. Beragam ekspresi disampaikan, beragam opini pula. Entah rasa senang atau rasa enggan, tetapi hal itu menjadi bagian dari hari yang tak biasa ini.
Tak sedikit yang bertanya, mengapa ada Hari Kartini? Mengapa bukan Hari Cut Nyak Dien atau Hari Dewi Sartika? Mengapa seorang Kartini dirayakan setiap tahun, dan sudah berpuluh-puluh tahun seperti itu?
Rasa terima kasih adalah jawabannya. Sejak buku Door Duisternis tot Licht terbit tahun 1912, tanggal 21 April telah dijadikan hari perenungan tentang perjuangan beliau membawa perempuan menuju cahayanya.
Dapat dikatakan sudah ada Hari Kartini lebih dari satu abad, meskipun, resminya baru tahun 1964. Tepatnya tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 108 Tahun 1964, Kartini ditetapkan sebagai sebagai pahlawan kemerdekaan nasional, dan hari lahirnya dijadikan Hari Kartini. Jadi bukan hanya pahlawan emansipasi wanita sebagaimana yang sering digaungkan.
Baca juga: Konferensi Perempuan Indonesia
Keluarga Kartini dan literasi
Dari sebuah kota kecil di ujung utara pulau Jawa, lahir beberapa pahlawan nasional. Salah satunya adalah Raden Adjeng Kartini. Beliau lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kawedanan Mayong, Jepara. Ayahnya masih menjadi wedono saat itu.
Dari ayahnya, garis bangsawan deras mengalir. Bupati Sosroningrat masih keturunan trah Tjondronegoro. Dari garis ibu, garis keluarga santri juga deras mengalir. Ibunya, Ngasirah, merupakan seorang santriwati, sekaligus putri Kyai Modirono dan Hajjah Siti Aminah.
Jika dirunut, Kartini merupakan anak kelima, sekaligus anak perempuan kedua. Namun beliau baru benar-benar dapat mengubah dunianya ketika menjadi putri pertamanya.
Adat Jawa memberikan peran putra/putri pertama sebagai wakil orangtuanya dalam mengasuh dan membersamai putra-putri lainnya. Maka pernikahan Soelastri menjadi momentum untuk mengubah wajah seluruh keluarga menjadi lebih modern, sesuai dengan jiwa dan cita-cita Kartini.
Dari keluarga inilah, lahir para penganjur pendidikan perempuan. Keluarga Sosroningrat bukan hanya keluarga yang menyekolahkan putra-putrinya, namun juga menguatkan literasi dari rumah, dan disebarkan ke segala penjuru. Tak hanya Kartini yang mewariskan tulisan berupa surat dan artikel media cetak, 5 putri lainnya juga.
Perjuangan Kartini tak pernah padam. Api semangatnya tetap hidup dan disebar dari dalem Kabupaten Jepara yang sekarang menjadi Museum Raden Adjeng Kartini.
Baca juga: Passionpreneur? Yes!
Penganjur pendidikan perempuan
Sesuai permintaannya pada Stella Zeehandelaar, “panggil aku Kartini saja, itu namaku,” maka kita tak perlu sering-sering menyebut gelar raden ajengnya. Ya, gelar raden ajeng memang gelar yang didapatkan oleh seseorang yang lahir sebagai anak bangsawan. Akan tetapi bagi Kartini, gelar ini given. Bukan sesuatu yang ia perjuangkan. Meskipun, tak sedikit rasa terima kasihnya karena lahir di keluarga yang memberinya kesempatan untuk belajar, bersekolah, mengenal huruf latin, dan dapat membaca-menulis.
Jika melihat garis keturunan dari ayah, beliau keturunan Tjondronegoro. Kakeknya adalah Tjondronegoro IV yang terkenal berpikiran maju. Seorang penganjur pendidikan bagi Bumiputera, yang mewariskan semangat “tak boleh bodoh” pada keturunannya. Kakek Tjondronegoro IV mendidik semua anaknya untuk mengenal etiket Jawa dan Barat sekaligus. Sesuatu yang teramat langka saat itu.
Bumiputera masih dibodohkan oleh keadaan dan nihilnya kesempatan. Hanya ada 1 sekolah dasar di kabupaten, dan hanya anak bupati yang boleh ikut sekolah, setelah mendapatkan izin dari Gubernur jenderal.
Bahkan nyaris setengah abad kemudian, yaitu tahun 1898, ketika Kartini memulai perjuangan membuat sekolah untuk anak perempuan, jumlah anak perempuan yang bersekolah di seluruh Jawa dan Madura hanya 11 murid saja. Jadi belum tentu dalam 1 kabupaten ada 1 anak perempuan yang bersekolah.
Semangat noblesse oblige dan sekolah perintis
Dengan semangat noblesse oblige, tiga putri Bupati Sosroningrat melakukan beragam bentuk ajakan, seruan dan penjelasan mengapa perempuan harus bersekolah. Mereka adalah Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Ketiganya disebut sebagai semanggi dari Japara. Mereka menggunakan nama samaran Tiga Saudara saat menulis di media cetak.
Mereka bukan hanya penganjur pendidikan perempuan namun juga membuat sebuah sekolah untuk anak perempuan. Sekolah ini dikelola bersama oleh 4 putri bupati (minus Kardinah karena sudah menikah dan tinggal di Pemalang). Sekolah ini menjadi sekolah perintis, yang sejak awal berdiri telah memiliki kurikulumnya sendiri.
4 putri Bupati Sosroningrat mengambil kursus singkat mengajar untuk pengelolaan kelas, dan masing-masing memiliki tugas mengajar sesuai dengan passion yang mereka tekuni dan ahli di sana. Tak tanggung-tanggung, untuk kelas kesehatan keluarga, mereka memanggil guru dari kota Mojowarno.
Pengubah wajah dunia
Hidupnya sangat singkat, hanya 25 tahun saja. Allah memanggilnya di saat produktivitasnya sedang sangat tinggi. Maka tak mengherankan jika ada banyak anak ideologisnya yang langsung menerima estafet perjuangannya, bahkan menyebarkannya ke seluruh Indonesia.
Menurut Kardinah, adiknya, Kartini sangat produktif dalam menyiarkan cita-citanya. Beliau sedikit tidur, sedikit makan, dan sering larut dalam kata-kata yang ingin disampaikannya. Ketika tiba waktunya mengerjakan lainnya, beliau sangat tekun, sehingga lagi-lagi mengurangi jadwal tidurnya.
Pelan tapi terukur, cita-citanya tentang pendidikan perempuan menyebar ke segala penjuru. Konsep pendidikan dan kegiatan di sekolah kecilnya dibagikan ke para sahabat. Beliau ingin agar mereka juga melakukan hal yang sama. Ceritanya tersebar luas semasa hidup, karena juga dalam bentuk tulisan di media cetak.
Maka tak heran jika saat suratnya dibukukan, begitu luar biasanya peminatnya. Tahun pertama cetak, yaitu 1912, buku Door Duisternis tot Licht naik cetak 3 kali. Tak menunggu lama, buku edisi terjemahan bahasa lain di seluruh dunia pun ikut terbit. Bahkan di Jazirah Arab pun buku ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa.
Dari tulisan-tulisan yang sedemikian banyaknya, ide-ide dan konsep pendidikan menyebar luas. Membuat para perempuan dapat melihat cahayanya. Mereka keluar dari kondisinya yang disembunyikan dari luar.
Indonesia menyambut fajar nasionalisme karena perempuan tak lagi dikucilkan. Setelah mereka dijadikan mitra kerja dalam pembangunan negeri. Demikian pula para perempuan dari seluruh dunia, yang juga mendapatkan manfaat dari tulisan-tulisan Kartini, ikut bergerak keluar, menyambut masa depan yang terang.
Artikel ini dibuat untuk memeriahkan FestPPim. Festival Perempuan Pemimpin 2025 hadir sebagai wadah inspiratif para perempuan di Ibu Profesional untuk mengimplementasikan pengetahuan, berbagi pengalaman, menyatakan apresiasi, dan menyemai visi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Ngebayangin keluarga Kartini pada jaman itu dan sudah snagat sadar dengan literasi. Bagaimana kabar keturunan Kartini di jaman sekarang ya???