Tidak banyak orang yang memahami bahwa setiap pondok pesantren punya kurikulum yang berbeda. Beberapa pesantren lebih memprioritaskan pelajaran hafalan Al-Qur’an, ada juga yang condong ke mengaji kitab (kuning), tapi ada juga yang menyeimbangkan pelajaran dunia dan akhirat. Pondok Modern Darussalam Gontor adalah salah satu yang termasuk di antaranya.
Gontor punya kurikulum tersendiri yang lepas dari panduan kurikulum pondok pesantren dari Kementerian Agama. Meski begitu, ijazah lulusan Gontor diakui oleh pemerintah. Alumni Gontor bahkan bisa melanjutkan kuliahnya di universitas negeri, swasta, hingga ke luar negeri.
“Di mana bumi dipijak, kamu bisa bertemu dengan keluarga Gontor”, begitu kenang Pipit, seorang alumni Gontor Putri.
Bekal Kehidupan dari Pesantren
Menurut Pipit, Gontor Putri memberikan bekal kehidupan yang fundamental. Pondok memberikan kail, tidak hanya sekedar ikan untuk para santri. Meski ada keterbatasan akses terhadap gawai dan media sosial, ekosistem pondok memberikan dorongan bagi para santri untuk sibuk beraktivitas di dalamnya.
Dalam pondok, santriwati tidak diposisikan sebagai objek atau penerima pasif. Pesantren bertindak sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat tempat para santriwati terlibat langsung dalam mengelola dinamika pondok.
Mulai dari penegakan kedisiplinan harian, pengawasan kegiatan asrama, pengelolaan organisasi pelajar (OPPM), hingga menggerakkan sektor unit usaha dan jual beli internal seperti koperasi dan kantin pondok. Pengalaman ini secara tidak langsung mengasah skill manajerial dan kepemimpinan sejak dini.
Penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam keseharian santri Gontor Putri pun sudah menjadi hal biasa. Pembiasaan ini juga diterapkan saat melatih kemampuan menulis dan public speaking para santri.
Panggung Kreativitas dan Pembuktian Mandiri
Kreativitas dan kemandirian santriwati semakin ditempa melalui sederet agenda besar yang dirancang penuh oleh mereka sendiri semasa pendidikan setara SMA. Gontor Putri memiliki sederet agenda rutin yang harus dirancang sendiri oleh para santriwati, mulai dari Gebyar Seni Darussalam, Drama Arena, hingga Panggung Gembira.
Para santriwati tidak hanya merancang pertunjukan drama, tarian, puisi, musik, maupun atraksi keterampilan dalam Bahasa Arab dan Inggris. Mereka juga turun tangan mendesain kostum, mendekorasi dan mengatur lighting panggung, hingga melukis background panggung berukuran raksasa secara manual menggunakan cat dan triplek.
Seluruh kesibukan panitia dan latihan ini dilakukan secara mandiri di sela-sela rutinitas padat sebagai seorang santri. Dari sini terlihat jelas bahwa hard skill dan soft skill terasah dari aktivitas santri di dalam pondok secara tidak langsung.
Peran Pesantren Membentuk Mental Santri
Gontor Putri melatih santriwati dalam banyak hal. Manajemen waktu yang baik semasa menjadi santriwati membuatnya bisa mengukur diri saat beraktivitas. Ketika memiliki pekerjaan dengan deadline berdekatan, Pipit tidak merasa tertekan karena sudah punya manajemen waktu yang baik.
Rasa percaya diri dan resiliensi menjadi jejak tak terpisahkan ketika santriwati terjun ke dunia nyata. Modal “nekat yang terukur” dan semangat pantang menyerah dari pondok membuat para alumni tidak ragu menginjakkan kaki selepas lulus dari pondok maupun mempelajari keterampilan baru.
Bahkan ketika memasuki fase kehidupan yang baru dan kompleks seperti pernikahan dan pengasuhan anak (motherhood), mental dan karakter yang dimiliki menjadi cermin dari tempaan selama menuntut ilmu di pesantren.
Baca juga : Tips Sukses Didik Anak di Boarding School
Persaudaraan dan Perjuangan
Salah satu nilai terindah dari kehidupan pesantren adalah kesetaraan. Di dalam asrama, semua santriwati melebur tanpa melihat latar belakang ekonomi maupun asal daerah. Dari tradisi berbagi makanan kiriman dari kota asal, belajar bersama di malam hari, hingga saling membangunkan untuk shalat malam. Pesantren membentuk ikatan kekeluargaan yang tulus dan bertahan seumur hidup tidak terlupakan meski lama terpisahkan.
Dalam nasihat seorang Ustadz pengajar di Gontor Putri, disampaikan bahwa hidup adalah tentang menunjukkan ketaatan di atas “sajadah” pilihan masing-masing. Bagi para santriwati di mana pun berada, jangan pernah takut melangkah maju atau merasa tertinggal, meskipun tantangan setelah lulus dari pondok akan berkali-kali lipat lebih sulit daripada saat di pondok. Sebab hard skill, soft skill, resiliensi semasa menjadi santri, dan niat ibadah yang telah tertanam akan senantiasa menjadi penuntun terbaik.
Menjadi santriwati bukanlah tentang keterbatasan, melainkan tentang kesiapan untuk melangkah ke mana pun dengan pijakan iman, adab, dan karakter yang kokoh. Dari balik bilik pesantren, lahir para perempuan tangguh yang siap mewarnai era apapun dengan karya mereka.
Selamat Hari Santri Nasional!
Setiap alumni pesantren pasti punya “sajadah perjuangan” dan kenangan berharga yang paling membekas hingga saat ini. Nilai atau pengalaman apa dari pondok yang paling terasa manfaatnya saat kamu terjun ke dunia nyata?
Tulis cerita dan refleksi terbaikmu di kolom komentar ya! Jangan lupa share artikel ini ke sesama teman alumni atau santri agar semangat bergerak dan berkaryanya terus menyala.
***
Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Yuliani Tri Puspitaningrum (biasa disapa Pipit), alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 tahun 2011. Apa yang tertuang dalam artikel ini merupakan refleksi pengalaman belajar dan pembentukan karakter yang dialami oleh Pipit semasa menjadi santri di Gontor Putri. Saat ini, Pipit berkarir sebagai Community Manager di Savonia Social, sambil menjalankan perannya utamanya sebagai seorang ibu.