Perempuan Di Balik Batik post thumbnail image

Batik indonesia sangat kaya ragamnya. Dari ujung pulau sumatra hingga ke ujung papua, terpendam kisah unik tentang batiknya. Kali ini teman baik akan mengenal 3 sosok perempuan di balik batik terkenal nusantara.

Batik tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dari Jawa seperti Pekalongan, Surakarta, Madura, Cirebon, Yogyakarta, dan Banten. Bahkan di luar pulau seperti Bali, Kalimantan, dan Papua.

Tiap daerah memiliki corak, warna, dan filosofi masing-masing. Semua itu dipengaruhi oleh kultur historis dan keseharian masyarakat daerah tersebut.

Di Jawa masa lampau, pembuatan batik hanya dilakukan oleh para priyayi dan putri-putri keraton. Beberapa masyarakat biasa yang ikut membatik adalah mereka para abdi dalem alias pelayan kerajaan. Para abdi dalem ini kemudia menyebarkan beberapa ilmu membatiknya kepada masyarakat di luar tembok keraton.

Pembuatan batik pun semakin beragam caranya. Tak hanya dengan ditulis seperti masa lalu, namun juga cap dan bahkan printing. Batik tulis menjadi batik paling eksklusif karena pembuatannya yang membutuhkan ketelitian tinggi dengan canting. Batik cap melakukan pewarnaan dengan cara mengecap kain dengan stempel besar berpola yang sudah terwarnai. Batik printing dibuat dengan cara menyablon kain.

Di masa modern, peran perempuan pengrajin batik pengembangan ekonomi kreatif batik semakin luas. yaitu sebagai fasilitator, distributor, dan produsen batik. Pembuatan pola dan motif batik yang penuh kerumitan, ketekunan, dan kesabaran biasanya dilakukan oleh perempuan. Kaum perempuan dianggap sesuai dengan pekerjaan membatik karena sifat dan kepribadiannya yang halus.

Yuk kita tengok 3 perempuan dari sekian banyak perempuan di balik batik nusantara!

Ernawati, Batik Mrico Bolong, Mojokerto, Jawa Timur

Sejak anak-anak, Ernawati telah terbiasa menorehkan canting dengan bimbingan ibunya, Ny. Karmuah. Ketika beranjak dewasa, Ernawati juga sempat bekerja menjadi buruh batik di rumah tetangganya.

Ernawati merintin usaha batik mrico bolong  pada 1997. Dia mengajak ibu-ibu di kampungnya untuk menjadi mitra kerja mengembangkan usaha kerajinan batik.

Motif mrico bolong pun berkembang hingga 40 motif dengan tema khas majapahit. Harga jualnya pun bervariasi tergantung kualitas kain dan tingkat kesulitan pengerjaan. Salah satu yang tersohor dan termahal adalah batik sekar jagad, yang pengerjaannya memakan waktu 1,5 bulan.

Sejak 2002, desain batiknya telah menjadi seragam wajib pegawai instansi pemerintahan di wilayah kota dan kabupaten Mojokerto. Batik Ernawati semakin terkenal di khalayak luas.

Sani Rachman, Batik Dayak, Samarinda, Kalimantan Timur

Pada 1982, Sani Rachman membangun usaha kecil bernama Batik Tulis Mitaka dengan misi mengenalkan budaya daerah lewat media kain batik dengan corak khas ukiran suku Dayak. Mitaka adalah gabungan nama kedua putri Sani Rachman, yaitu Mita dan Ika.

Order pertama kala itu adalah untuk pameran di hari kemerdekaan RI dan kegiatan peresmian Pupuk Kaltim di Bontang. Tidak selalu mulus, usaha tentu mengalami pasang surut. Sani Rachman membesarkan Batik Mitaka ini dengan bantuan modal dari pihak perbankan.

Di tahun 1990-an, Batik Mitaka bahkan mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto. Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas inovasi batik tulis Kalimantan dan upaya pelestarian budaya batik di Indonesia.

Rusmini, Batik Larasati, Kendal, Jawa Tengah

Sejak 2013 Rusmini konsisten menghasilkan berbagai macam batik. Sebelum terjun ke dunia batik, Rusmini telah mencoba profesi nelayan dan petani. Dari pengalamannya itulah lahir motif-motif batik Larasati.

Berbagai teknik seperti, batik tulis, batik cap, dan batik jumput dicobanya. Motif yang diusung bertema tradisional seperti kendil (tempat air minum dari tanah liat), daun kendal, bahkan ikan bandeng. Ikan ini memang menjadi komoditas utama dan potensi perikanan Kabupaten Kendal.

Batik jumput adalah batik yang dibuat dengan teknik ikat celup. Batik tulis membutuhkan waktu satu minggu hingga satu bulan untuk motif dengan kerumitan tinggi. Batik cap dapat menghasilkan 15 lembar kain dalam satu kali produksi. Pesanan biasanya datang dari komunitas seni dan instansi pemerintah.

***

Bagaimana dengan kalian, suka batik motif apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post