Hai Teman Baik Ipedia!
Sudah pernah mendengar nama Rahmah El Yunusiyyah, kan? Namanya semakin nyaring bergaung sejak dianugerahi gelar pahlawan nasional di penghujung 2025 ini.
Tahukah kalian bahwa itu bukan penghargaan pertamanya. Rahmah mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputera Pratama pada 1999 dan Bintang Mahaputera Adipradana pada 2013 secara anumerta.
Jauh sebelum itu, pada 1957, di masa hidupnya, Rahmah mendapat gelar Doctor Honoris Causa dan berhak menyandang sebutan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Ini adalah kali pertama Universitas Islam mahsyur tersebut memberikan gelar kepada seorang perempuan.
Perempuan, sesuai kodratnya, perlu diorientasikan menjadi ibu pendidik yang cakap dan aktif bagi anak-anaknya serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Tuhan-Nya.
Adalah konsep dasar pergerakan Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) yang diperjuangkan hingga akhir hayatnya. Betapa revolusioner ide itu di masanya. Betapa relevan konsep itu di masa kini.
Mari kita simak sekelumit kisah Rahmah sebagai pembelajar, pemimpin, dan pendidik.
Pembelajar Sepanjang Hayat
“Belajar adalah kewajiban asasi setiap manusia tanpa memandang gender. Belajar itu sepanjang hayat. Belajar bukan demi sekolah, melainkan demi eksistensi hidup. Belajar tak terbatas ruang dan waktu.”
Itulah filosofi Rahmah dalam belajar. Selain mempelajari ilmu agama, Rahmah pun tekun mempelajari disiplin ilmu lainnya. Jejak Aisyah RA dan para shahabiyah di zaman kenabian Rasulullah SAW menjadi obor bagi Rahmah untuk menuntut ilmu seluas-luasnya.
Pendidikan formal yang ditempuh Rahmah hanyalah 3 tahun Volks School alias Sekolah Rakyat. Di sekolah setara SD ini, murid yang berasal dari rakyat kelas rendah, diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.
Rahmah berasal dari keluarga yang gemar membaca, belajar, dan berguru. Perpustakaan keluarganya mencapai ribuan buku dan surat kabar dari berbagai negara. Kakak tertuanya, Zainuddin Labay El Yunusy, adalah pendiri Diniyyah School yang juga penulis dan pimpinan redaksi surat kabar Al-Munir. Menurut penuturan Zuraida Zainuddin, ayahnya menguasi bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahkan bahasa Perancis, Jerman, dan Cina yang tercermin dari ragam koleksinya.
Mendapatkan paparan semacam itu, Rahmah pun menguasai bahasa Arab, Inggris, dan Belanda. Dengan membaca berbagai buku dan artikel sang kakak, Rahmah pandai mengolah kata dan berorasi. Apa yang Rahmah pelajari di Sekolah Rakyat tidak sebanding dengan luasnya khazanah ilmu yang Rahmah dapat dari keluarganya.
Sejak umur 10 tahun, Rahmah gemar mendengarkan dan menyimak pengajian para ibu di surau. Kegiatan ini membuka wawasannya tentang berbagai isu wanita, seperti pernikahan, perceraian, fikih wanita, dan peran wanita di masyarakat.
Ketika Rahmah berusia 15 tahun, Zainuddin Labay mendirikan Diniyyah School dan Rahmah ikut bersekolah di sana hingga tamat. Rahmah mengurus koperasi dan menjadi ketua bagian putri Persatuan Murid Diniyyah School (PMDS). Rahmah pun berperan memimpin kepanduan bagian puteri saat PMDS mendirikan Kepanduan Indonesia Muslim (KIM).
Pemantik Pendirian Diniyyah School Puteri
Dari pengalamannya itu, Rahmah merasa kurang puas dengan penyampaian materi islam bagi murid perempuan. Rahmah berpikir bahwa harusnya hal-hal berkaitan dengan kewanitaan juga perlu diajarkan secara terstruktur kepada wanita. Rahmah juga merasa bahwa ilmu agama yang dipelajari perempuan tidak sebanyak dan sedalam yang dipelajari oleh laki-laki. Hal itu mendasari Rahmah untuk berguru langsung kepada Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, yang juga merupakan ayah Buya Hamka. Dalam “Kenang-kenangan Hidup”, Hamka menuturkan:
Boleh dikata sebelum itu belumlah ada kaum perempuan belajar agama, nahwu, sharaf, fikih, dan ushul-nya. Sebelum itu kaum perempuan belajar dalam pengajian umum saja. Di antara yang turut belajar pada waktu itu ialah Rasuna Said, Nanisah, dan Upik Japang. Dan Rahmah yang menjadi pemimpinnya. Maka harusnya diakui bahwa Rahmah pelopor kaum wanita belajar agama sebagaimana kaum laki-laki.
Hobi Belajar Rahmah
Selain membaca dan melakukan pergerakan sosial, Rahmah juga menyukai keterampilan bertenun dan menjahit. Keterampilah yang lazim dikuasai oleh perempuan minang kala itu. Tak enggan rahmah mengunjungi pusat tenun di Silungkang, Pandai Sikat, dan Bukittinggi untuk belajar langsung tanpa mesin.
Kegemarannya belajar tercermin pula ketika sekitar awal 1930, di usianya yang menginjak kepala tiga, Rahmah memperoleh gelar kebidanan setelah belajar ilmu kebidanan dan ilmu kesehatan dari dr. Sofyan Rasyad dan dr. Tazar di Rumah Sakit Umum Kayutanam.
Tak hanya itu, Rahmah pun sempat mempelajari ilmu senam atau gymnastik dari seorang guru Belanda, Mej. Oliver, yang mengajar di Meisjes Normal School di Guguk Malintang.
Bagi Rahmah, tak ada dikotomi ilmu agama dengan ilmu umum. Setiap manusia wajib menuntut ilmu demi mengembangkan akal budi dan memperbanyak amal kebaikan. Semua ilmu, asalkan maslahat sangat perlu dipelajari. Perempuan harus giat menuntut ilmu dengan semangat pengabdian kepada Allah SWT untuk memakmurkan kehidupan di bumi.
Pendidik Sejati Berteman dengan Lelah
Keberadaan Sekolah Rakyat pada tahun 1900-an ini tidak serta merta menjadi gerbang literasi masyarakat. Faktanya, berdasarkan sensus 1930 yang dikutip oleh Sugiantoro (2025), angka melek huruf usia dewasa hanya sebesar 7,4%. Sumatera menempati pencapaian tertinggi dengan 13,1%. Jawa dan madura 6%. Bali dan Lombok 4%.
Sekolah Rakyat memang bukan ditujukan untuk mencerdaskan rakyat, melainkan untuk mengisi pos pegawai rendahan. Semua jenjang sekolah yang didirikan Belanda kental dengan kepentingan kolonial. Nasib kaum perempuan pun semakin terpuruk.
“Tak bisa baca tulis hitung, tak cukup paham pula dengan agamanya sendiri, “ begitulah pandangan Rahmah kala itu.
Padahal bagi Rahmah, perempuan adalah pilar utama peradaban bangsa. Perempuan sebagai calon ibu adalah pendidik utama anak-anak penerus generasi mendatang. Anak yang dididik oleh ibu yang terdidik akan menghasilkan kebaikan bagi masyarakat. Memahami hal ini, Rahmah mendirikan berbagai sekolah dengan berbagai jenjang di berbagai penjuru negeri.
Selain Dinniyah School Puteri, ada pula lembaga pendidikan Al-Quran yang digagasnya sejak bersekolah di Diniyyah School.
Bersama Rasuna Said, Rahmah mengajar Menjesal School bagi para ibu. Dinamai dengan kata ‘menyesal’ untuk memantik pemahaman kaum ibu bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar baca tulis hitung. Tak hanya itu, Rahmah juga memasukkan materi tauhid, fiqih, dan akhlak ke dalamnya.
Baca juga: Rasuna Said: Kaum Bangsawan Melawan Penjajah
Berbagai Jenjang Pendidikan untuk Berbagai Kaumnya
Taman Kanak-kanak pertama di Indonesia pun dibuka oleh Rahmah pada 1934 bernama Freubel School dengan jumlah murid angkatan 1 sebanyak 25 anak.
Untuk jenjang SD, didirikan pula Junior Institut, yang kemudian berganti nama menjadi Islamitische Hollands School (IHS) di masa penjajahan Belanda dan Dasar Masyarakat Nippon Indonesia (Damani) di era penjajahan Jepang.
Pada 1937, Rahmah memulai program Kulliyat al-Mu’allimat al-islamiyah untuk membekali calon guru dengan lama studi 3 tahun.
Untuk tingkat perguruan tinggi, tahun 1967 didirikanlah Fakultas Tarbiyah dan Dakwah yang bernaung di bawah al-Jami’atud Diniyyah lil Banat, sebuah universitas khusus puteri.
Bersama tokoh-tokoh lain di Sumatera Barat, Rahmah juga menginisiasi Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila di Padang sekitar tahun 1950. Perguruan ini di kemudian hari menjadi cikal bakal Fakultas Hukum di Universitas Andalas, Padang.
Tak sedikit tantangan yang dihadapi Rahmah dalam mengelola berbagai lembaga pendidikan yang didirikannya. Mulai dari gempa dahsyat 1926, kekurangan pendanaan, gedung yang disita akibat tak mampu membayar hutang, penggeledahan Belanda, penangkapan guru-guru Diniyyah School Puteri. Namun semua itu tak membuat Rahmah putus asa.
Tersandung batu kerikil, terhambat tembok penghalang, dihantam gelombang besar, Rahmah El Yunusiyyah tetap berkomitmen laksana batu karang di tengah lautan demi perwujudan cita-cita.
– Ir. H. Azwar Anas, Gubernur Sumatera Barat 1977-1987
Pemimpin Diniyyah School Puteri
Di usia 24 tahun Rahmah mendirikan al-Madrasatul Diniyyah lil Banat di Padang Panjang. Di tahun 1924, empat tahun sebelum sumpah pemuda, dalam masa penjajahan Belanda, sekolah ini berdiri. Tak lama, sekolah pun berganti nama menjadi Diniyyah School Puteri. Perubahan ini adalah strategi Rahmah untuk menjangkau kaum perempuan di setiap kalangan; masyarakat berpendidikan barat, masyarakat islam, dan masyarakat budaya Indonesia.
Dengan nama yang menggabungkan 3 bahasa, Diniyyah School Puteri adalah perwujudan dari visi besar Rahmah untuk seluruh perempuan indonesia hingga akhir masa. Bahwa perempuan perlu dibekali untuk menjadi ibu pendidik yang mampu berkhidmat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya atas dasar pengabdian pada Tuhannya.
Pada awal pendirian itu bangunan perguruan tersebut hanya dari bambu dengan murid berjumlah 71. Sekolah ini kerap disebut “Sekolah Betung” atau sekolah bambu. Namun inilah cikal bakal pesantren putri di indonesia. Sejarawan Prof. Dr. Mestika Zed, MA dalam Sugiantoro (2025) menyebutkan,
“Tahun pertama, pelajaran diberikan tiap hari selama tiga jam. Akan tetapi kegiatan murid-murid tidak terbatas hanya pada pelajaran formal di sekolah saja. Mereka juga belajar kepanduan, dorongan membaca surat kabar, koperasi, organisasi, dan kesenian. Salat berjamaah dilakukan di masjid tempat mereka belajar. Dan tentu saja keterampilan di bidang keputrian.”
Di lembaga pendidikan Rahmah, ilmu agama dan ilmu umum diajarkan tanpa terkecuali. Sepuluh tahun sejak berdirinya perguruan, semakin luas pula mata pelajaran dalam kurikulumnya. Ilmu bumi, ilmu ukur, aljabar, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu hukum, ilmu kimia, dan ilmu bangsa-bangsa diajarkan untuk meluaskan wawasan kaum perempuan. Pelajaran olahraga, kesehatan, kesenian, dan bahasa asing pun diberikan. Dan tentu saja tak lupa pula bekal keterampilan seperti memasak, menjahit, dan menganyam.
Ayam Betina Belajar Berkokok
Menariknya lagi, Rahmah yang memang pandai berorasi tentu saja membagi ilmu orasinya kepada anak didiknya lewat kegiatan ekstrakurikuler Debaten Club.
Georges Henri-Bousquet, seorang profesor kebangsaan Perancis dari Universitas Aljazair, mengunjungi Diniyyah Puteri School pada 1933. Betapa terpananya dia melihat murid-murid Rahmah fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Sejak saat itu, lambat laun Diniyyah School Puteri mendapat julukan “tempat ayam betina diajar berkokok”.
Sebanyak 375 perempuan tercatat sebagai murid Rahmah kala itu. Muridnya tak hanya berasal dari ranah Minang, tetapi juga Sumatera bagian lain, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Timor, dan Irian. Bahkan dari mancanegara seperti, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Kesultanan sekitar sumatera dan semenanjung malaka pun tak segan mengirimkan puteri-puterinya untuk dididik oleh Rahmah.
Sekolah diniyyah bukan hanya berada di Padang Panjang. Rahmah menduplikasinya di 3 titik Jakarta pada 1935; Gang Nangka Kwitang, Meester Cornelis atau Jatinegara, dan Kebon Kacang Tanah Abang.
Kontribusi Alumni Diniyyah School Puteri
Diniyyah Puteri School memiliki masa belajar sepanjang 7 tahun. Jenjang Ibtidaiyah selama 4 tahun dan Tsanawiyah 3 tahun. Banyak sekali terlahir calon guru di sini. Tak hanya mengajar di daerah Sumatera Barat, tapi juga luar daerah mencapai Riau, Jambi, Tapanuli, bahkan Singapura dan Malaya.
Kontribusi positif alumni Diniyyah School Puteri kala itu tak terbatas sebagai pendidik dan pengajar. Sebagian dari mereka pun aktif berpolitik dan menjadi tokoh pergerakan nasional, seperti Rasuna Said, Ratna Sari, Rasimah Ismail, dan Fatimah Hatta. Kemampuan analitis, kritis, orasi, dan semangat kemerdekaan yang ditanamkan di perguruan ini sungguh mampu menjadi penyemangat dalam melawan penjajahan.
Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pun, murid-murid Diniyyah School Puteri digerakkan Rahmah untuk menopang kebutuhan para prajurit gerilya, baik dari segi ransum, pakaian, dan obat-obatan. Rahmah sendiri tak segan terjun ke medan perang untuk berorasi memotivasi pejuang kemerdekaan.
Beasiswa Luar Negeri? Sudah Ada Sejak Dulu!
Sejak mendapat gelar Doctor Honoris Causa dan hak untuk menyandang “syaikhah” di depan namanya, banyak negara Timur Tengah yang menaruh perhatian pada perguruannya. Pemerintah Republik Persatuan Arab menawarkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Al-Azhar bagi lulusan Diniyyah School Puteri.
Dalam lawatannya ke Yordania, Lebanon, Palestina, dan Irak, terbuka peluang kerjasama dan beasiswa. Pemerintah Kuwait pun ikut memberikan tawaran beasiswa studi. Bahkan, tak hanya mendapatkan peluang belajar, murid-murid perguruan Rahmah juga mendapat kesempatan mengajar di Mekah, Madinah, Kuwait, dan negara lainnya.
Penutup
Rahmah El Yunusiyyah adalah generasi yang melalui 3 episode polemik kemerdekaan indonesia. Sejak masa penjajahan dan upaya perebutan kemerdekaan, masa mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer, hingga masa awal mengisi kemerdekaan.
Memiliki berbagai peran di bidang pendidikan, bahkan politik dan sosial, Rahmah adalah sosok perempuan yang ditempa oleh zaman. Pedihnya penjajahan, perihnya luka yang ditoreh oleh perang, kelamnya penahanan Belanda, malah mengobarkan semangatnya untuk mencerdaskan perempuan Indonesia.
Satu abad berlalu sejak Rahma merintis sekolah di Padang Panjang. Muridnya berasal dari berbagai daerah dan negeri. Lulusannya pun mengajar dan berkarya hingga ke luar daerah dan negeri.
Sesungguhnya, bagi Rahmah, murid-muridnya tidak harus menjadi orang terkenal tetapi wajib memahami filosofi sebagai ibu pendidik. Apapun profesinya, apapun pekerjaannya, semua dalam bingkai pengabdian kepada-Nya.
Di akhir kata ini, semoga teman baik Ipedia menemukan secercah pencerahan akan tujuan hidup yang sejatinya. Karena dengan berpegang padanya, kita semua mampu menemukan semangat sebesar semangat Rahmah El Yunusiyyah untuk belajar dan berjuang.
Artikel ini dibuat untuk memeriahkan FestPPim. Festival Perempuan Pemimpin 2025 yang hadir sebagai wadah inspiratif para perempuan di Ibu Profesional untuk mengimplementasikan pengetahuan, berbagi pengalaman, menyatakan apresiasi, dan menyemai visi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Referensi
Sugiantoro, Hendra. Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia. Matapadi Pressindo, 2021.
Meluruskan Kembali Makna Hari Ibu, Belajar Dari Sosok Rahmah El-Yunusiyah, Kumparan, 23 Desember 2024.
Rahmah El Yunusiyyah, Tokoh Pendidikan dan Perempuan Pejuang dari Sumbar, Kompas, 12 November 2025.
1 thought on “Rahmah El Yunusiyyah: Pembaharu Pendidikan Perempuan”