Mengembalikan Senyum Ibu dan Anak Penyintas Banjir Aceh post thumbnail image

“A” Home Team Ibu Profesional Aceh dan The Human Safety Net Indonesia bergerak bersama mengadakan psycho-social recovery “Aceh Bisa! Aceh Bangkit! Aceh Bisa Bangkit!” pada 27 Desember 2025. Kegiatan ini ditujukan untuk kaum ibu dan anak-anak penyintas bencana banjir Aceh di Gampong Geunteng dan Gampong Masjid Tuha, Kabupaten Pidie Jaya. 

Dampak bencana banjir Aceh belum usai. Lumpur masih menggenang, infrastruktur rusak dan terputus, rumah belum sepenuhnya layak ditinggali, begitu pula kebutuhan dasar belum semuanya terpenuhi. Bantuan masih harus terus digelontorkan. Kegiatan trauma healing masih harus terus digemborkan. Butuh kerjasama semua pihak dan warga agar episode ini bisa terlalui.

Banjir bandang ini tidak hanya merendam bangunan, tetapi juga menggerus rasa rasa aman. Ketenangan, kesenangan, dan keberanian anak-anak – Tim A Home Team IIP Aceh.

Mengusung konsep Mini Board Gameland, para relawan dan fasilitator dari “A” Home Team tampil dengan kostum lebah. Hal ini mampu mencuri perhatian, mencairkan suasana, dan menghadirkan rasa aman bagi anak-anak.

Sejumlah studi psikologi anak menunjukkan bahwa aktivitas bermain bersama dapat meningkatkan hormon kebahagiaan dan memperkuat resiliensi pasca trauma.

Lokasi pertama adalah Desa Geunteng, Meunasah Rheng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan diisi dengan aktivitas mewarnai, menyanyi dan menari bersama Beebo. serta berbagi paket donasi untuk anak-anak dan ibu-ibu.

Perlahan, anak-anak larut dalam keseruan acara. Wajah yang sempat tegang berubah menjadi senyum,
rasa cemas berganti tawa, dan ruang bermain kembali hidup setelah hari-hari penuh ketidakpastian. Ibu-ibu yang tadinya cuma menonton pun perlahan larut dalam keseruan acara, seiring dengan senyuman yang merekah di bibir anak-anak mereka.

Baca juga: Kenapa Perempuan Rentan Mengalami Gangguan Kesehatan Mental?

Di lokasi kedua, yakni Gampong Mesjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kegiatan psycho-social recovery dilaksanakan di area masjid.

Suasana dijaga agar tetap khidmat untuk menghormati tempat ibadah. Tanpa iringan musik, fasilitator mengajak anak-anak bernyanyi bersama secara langsung, menghadirkan keceriaan dengan cara yang sederhana dan penuh kehangatan. Kegiatan mewarnai dilakukan secara berkelompok untuk mengembalikan kebersamaan dan interaksi, juga memupuk rasa saling mendukung di antara mereka.

Di lokasi kedua ini, ibu-ibu juga dikumpulkan dalam sesi tersendiri. Bersamaan dengan anak-anak, mereka mengikuti rangkaian games dan ice breaking. Sesi refleksi dilaksanakan terpisah di area masjid.

Sesi ibu juga menghasilkan Pohon Harapan, sticky notes warna-warni bertulis harapan disusun menyerupai pohon. Terbaca beberapa doa tentang rumah agar kembali layak huni, anak-anak bisa bersekolah, trauma yang pulih, hingga Aceh yang kembali bangkit.

Ibu-ibu berada di serambi masjid sisi kanan, dan anak-anak di serambi kiri, menciptakan ruang aman bagi masing-masing untuk mengekspresikan diri.

Baca juga: Tips Menjadi Bunda Produktif yang Berarti & Bahagia

Selain mengadakan kegiatan trauma healing, tim Ibu Profesional Aceh dan The Human Safety Net juga mengantarkan paket donasi di daerah yang dilalui. Di Desa Blang Cut, rumah warga terendam lumpur hingga ke atap. Berhari-hari warga harus bertahan di atas untuk menghindari banjir. Dan selama itu pula mereka harus menahan dingin dan lapar karena belum ada tim SAR yang mampu menjangkau lokasi.

“Bukan soal banyak atau sedikitnya bantuan, tapi kehadiran dan perhatian ini membuat kami merasa tidak dilupakan, masih dianggap saudara,” tutur salah satu warga.

Ini bukan sekedar agenda, melainkan pertemuan yang menenangkan, menguatkan, dan memanusiakan.
Pemulihan bukan hanya tentang bertahan, melainkan tentang merasa didengar, diterima, dan ditemani. – A home team

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post